Buku dan pensil adalah peralatan Sekolah

Diposting pada: 2018-04-25, oleh : Ridwan, Kategori: Tanpa Kategori

Pensil : Buk Buku, aku ingin menuliskan sesuatu di lembaran-lembaranmu.
 
Buku : Silahkan wahai pensil.
 
Pensil : Bolehkah aku menuliskan apa saja?
 
Buku : Kamu boleh menuliskan apa saja di lembaran-lembaran yang aku miliki wahai pensil, silahkan. Apa saja terserah dirimu, semau kamu mau menuliskan apa.
 
Pensil mulai menuliskan banyak hal di lembaran-lembaran buku. Ia menuliskan

banyak sekali, lembar demi lembar hinga tak terasa sudah berlembar-lembar ia menuliskan kata. Sang buku pun hanya diam saja, ia tak protes mau ditulisi apa. Karena dari awal, sang buku sudah memberikan kebebasan bagi pensil untuk menulis apa saja. Dia tak mungkin menarik kata-katanya.
 
Pensil : Wahai buku, aku telah menuliskan banyak tulisan di lembaranmu.
 
Buku : Lanjutkanlah, lembaranku masih banyak.
 
Pensil : Aku tadi telah melihat-lihat tulisanku, banyak sekali coretan dalam lembaranmu. Ada pula banyak kesalahan tulisan ketika aku menulis. Aku rasanya sedih, kenapa aku menulis seperti itu. Padahal seharusnya aku bisa menulis dengan baik. Aku menyesal, aku sering main-main ketika menulis itu. Aku tak bersungguh-sungguh menuliskannya.
 
 
Buku : Wahai pensil, jangan berhenti menulis wahai pensil. Aku masih punya banyak lembaran baru yang masih putih untuk engkau tulisi. Sekalipun lembaran-lembaran sebelumnya sangatlah jelek dan penuh kesalahan.
 
Pensil : Tetapi lembaran yang sebelumnya sangat buruk untuk aku lihat.
 
Buku : Wahai pensil, menyesal boleh saja. Namun lihatlah, lihatlah lembaranku setelahnya masih putih bersih. Kamu masih punya kesempatan untuk menuliskan sesuatu yang indah.
 
Pensil : Tetapi aku sedih...
 
Buku : Oke kalau begitu, robek saja lembaranku yang buruk itu. Agar engkau tak melihatnya.
 
Pensil pun akhirnya menyadari bahwa ia masih bisa  menuliskan di lembaran-lembaran yang masih putih dengan tulisan dan kalimat yang indah. Ia menyadari bahwa seburuk apapun lembaran yang sebelumnya, ia masih punya kesempatan untuk membuat tulisan indah di lembaran baru yang masih indah. Ia juga menyadari bahwa lembaran itu tak akan tersedia terus, nanti juga lembaran milik buku akan habis juga. Ia hanya perlu memanfaatkan lembaran yang masih ada.


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 1 komentar untuk berita ini

  • Indra
    2011-11-30

    masak sih? padahal dulu jaman saya Sekolah ga pernah lho bawa buku sama pensil, saya Sekolah cuma modal seragam doank...

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id